Blog Of Visitor

Minggu, 25 Januari 2009

Jembatan Tukad Bangkung

By Devita Sri Raihana
Sumber : James Sri Adi (mantan Staff Teknik Jembatan Tukad Bangkung-Plaga-Bali). Salam buat mantan Kasi Teknik Jembatan Tukad bangkung-Plaga-Bali, : Bapak Ir. Edi Kismardi, dan salam buat Desainer Jembatan Tukad bangkung : Bapak Dr. Ir. Jodi Firmansyah, MSE., Ph.D., dan tak lupa salam kami yang sedalam-dalamnya buat seluruh mantan Staff Pt. Istaka Karya (persero), mantan staff PT. Hutama Karya (persero), dan siapa saja yang merupakan mantan pembangunan Jembatan Tukad bangkung-Plaga-Bali, saya atas nama papa saya memohon ijin untuk menampilkan posting tentang Jembatan Tukad bangkung agar di kemudian hari menjadi lebih bermanfaat buat seluruh manusia yang ada di bumi ini, trimakasih banyak kami ucapkan.
Jembatan Tukad Bangkung merupakan jembatan berteknologi tinggi yang juga menggunakan alat-alat berteknologi tinggi seperti penggunaan Travellar yang langsung didatangkan dari negara Francis. Harga satu pasang Travellar dengan nilai tukar dolar Rp.9.000 kurang lebih Rp. 3 Milyar. Pada Jembatan Tukad Bangkung menggunakan 2 pasang traveller, jadi nilainya kurang lebih Rp. 6 Milyar. Jika Tiga Pasang berati total nilai investasi Travellarnya mencapai Rp. 9 Milyar. Travellar digunakan sebagai Formwork berjalan (mesin cetakan berjalan) bisa dioprasikan dengan ketinggian lebih dari 70 meter, meskipun pada posisi yang sangat tinggi terdapat kecepatan angin yang ikut mempengaruhi pengoprasian Travellar tersebut, namun bisa dilihat hasilnya seperti sekarang ini Jembatan Tukad Bangkung dapat diselesaikan dengan baik. Untuk pondasi Jembatan ini menggunakan system Caisson dengan Secant Pile Kedalaman 41 meter, dimana dengan diameter 9 meter tanah digali dengan alat berat sedalam 41 meter kemudian setelah mencapai kedalaman tertentu ditest kekerasan tanahnya sehingga tidak sembarangan menggali, setelah mencapai kedalaman 41 meter penggalian dihentikan jika sudah mencapai kekerasan tanah yang diijinkan, Jika dilihat dari atas lubang galian ini sangat mengerikan karena sangat besar dan dalam, dimana didalamnya terdapat alat berat yang menggali, kemudian tanahnya dinaikkan dengan menggunakan Bucket atau box yang dioperasikan dengan alat berat Crawler Crane dengan kemampuan angkat minimum 100 ton. Setelah selesai menggali alat berat berupa Beghoe dinaikkan kepermukaan dengan Crawel Crane. Selanjutnya adalah memasang tulangan sedalam 41 meter, tentunya dilakukan bertahap setiap 12 meter atau kurang karena tidak mungkin dilakukan pengecoran dengan beton untuk memenuhi lubang galian sedalam 41 meter dalam sehari, karena tentunya dibutuhkan volume beton yang sangat banyak sekali, setiap 3 meter pada sisi-sisi scant Pile dipasang cincin penguat dari Baja WF. Setelah selasai pekerjaan pondasi ini maka dilanjutkan dengan pekerjaan Pile Cap 12 meter x 12 meter dengan tinggi hamper 4 meter dengan system Beton Prestressed yaitu menggunakan urat baja mirip bahan pada Jembatan Cable Stayed di USA atau Francis. Diatas Pile Cap inilah didirikan Pier dengan system Prestressed hingga mencapai ketinggian tertentu seperti pada Jembatan Tukad bangkung ini mencapai 71,14 meter. Pier ini memeiliki Kepala yang disebut Hamer Head yang menggunakan system Prestressed yang jauh lebih banyak menggunakan urat baja daripada jembatan biasa. Pada Hamer Head inilah Box Girder dengan lebar 9,6 meter diposisikan dan mulainya mesin canggih Travellar diletakkan sebagai alat cetakan berjalan kearah masing-masing Pier dengan jarak tiap Pier 120 meter, dimana pada Jembatan ini terdapat 3 pier (P1, P2 & P3), dan pada setiap Pier tentunya telah ada sepasang Travellar yang berjalan menjauhi Pier sampai menuju titik tertentu yaitu di tengah-tengah yang di sebut CLOSURE. Alhasil setiap 3 meter box Girder dengan lebar 9,6 meter ini diisi banyak sekali urat baja yang disebut Strand yang menggunakan system Prestressed bertegangan tinggi, dan urat baja inilah yang membuat kekuatan yang luar biasa sekali sehingga dengan bentang sepanjang 360 meter mampu menopang dirinya sendiri yang berupa beton dengan berat beratus-ratus ton bahkan mungkin ribuan ton. Untuk mengecek elevasi ketinggian setiap titik pada Box Girder digunakan alat canggih seperti Total Station dimana alat ini jika difungsikan secara maximal dapat dihubungkan dengan GPS dan terkoneksi ke Satelit GPS untuk mengukur setiap titik elevasi pada Jembatan ini, dan tentunya alat ini sangat mahal harganya hingga mencapai Rp. 400 Juta per unit.
Walaupun pada awalnya pembangunan jembatan ini pelan-pelan karena mengikuti pendanaan dari Pemerinta Daerah, namun hal itu justru akan semakin mematangkan proses terselesaikannya jembatan Tukad bangkung tersebut, tentunya hal ini tidak lepas dari dukungan masyarakat Plaga dan Belok Sidan pada khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. Dimana Investasi untuk alat-alat canggih ini tentunya sangat mahal, seperti photo pada posting ini terdapat Travellar saat pembangunan Jembatan Tukad Bangkung, dimana photo ini sengaja dititipkan oleh papaku yang mantan staff teknik salah satu BUMN yang ikut membangun Jembatan Tukad bangkung tersebut. Awalnya aku ingin memasang photo terbaru saat jalan-jalan ke Plaga dan melewati Jembatan Tukad bangkung. Namun ternyata banyak sekali posting-posting yang beredar di Internet tentang Jembatan Tukad bangkung ini. Alhasil supaya photonya berbeda dari yang lain papaku menyarankan untuk menggunakan photo saat pembangunan Jembatan Tukad bangkung tersebut. Jembatan Tukad Bangkung Didesain oleh Desainer terkenal : Dr. Ir. Jodi Firmansyah, MSE., Ph.D. Beliau ini juga yang sedang merencanakan Jembatan Selat Sunda sepanjang 27 Km dengan lebar 30 meter. Sementara Kontarktor Pelaksana Jembatan Tukad Bangkung adalah dua buah badan BUMN yang joint yaitu PT. Istaka Karya (persero) dan PT. Hutama Karya (persero). Sementara Konsultan pengawasnya adalah PT. Buana Nata Loka. Jembatan Tukad Bangkung mempunyai panjang 360 meter, lebar 9,6 meter, dengan pilar tertinggi mencapai 71,14 meter, dan pondasi pilar 41 meter di bawah tanah. Jembatan itu berteknologi balanced cantilever, dengan estimasi usia pakai selama 100 tahun. Dengan alasan supaya tidak mengurangi pemandangan di sekitarnya, jembatan itu tidak dibangun dengan atap di atasnya. Konstruksi jembatan itu diperkirakan tahan terhadap gempa hingga 7 skala Richter. Jembatan itu menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan Jembatan Tukad Bangkung. Jembatan Tukad Bangkung bukanlah Jembatan terpanjang di Indonesia, karena masih ada Jembatan SURAMADU dengan panjang 10 KM, dan rencananya Jembatan Selat Sunda 27 Km, namun kalau dilihat ketinggiannya memang Jembatan Tukad Bangkung cukup bisa dibilang tinggi yaitu 71,14 meter, coba bayangkan jika membuat gedung dengan ketinggian tersebut bisa mencapai 23 lantai. Karena mengingat Jembatan Tukad Bangkung ini adalah sesuatu bangunan yang sangat spetakuler, yang bisa dijadikan obyek parwisata yang sangat menjanjikan. Tentunya kita patut mengacungkan jempol terhadap pihak-pihak yang ikut menyetujui pembangunan jembatan yang sangat spetakuler ini, tentunya Diperlukan dana Rp 49 miliar lebih untuk membangun jembatan ini. Dana itu berasal murni dari APBD Provinsi Bali, dengan sistem multiyears sejak tahun 2001 lalu. Pembangunan jembatan itu sekaligus memangkas jarak di jembatan lama sepanjang 6 kilometer.Jembatan Tukad Bangkung terletak Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, diresmikan pada tanggal 28 April 2007 lalu oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan yang menghubungkan tiga kabupaten, masing-masing Badung, Bangli, dan Buleleng itu menjadi jembatan terpanjang di Bali dan diklaim sebagai tertinggi di Asia. Untuk mencapai jembatan Tukad Bangkung dari Denpasar, kita melewati beberapa objek wisata lain seperti Sangeh (yang terkenal dengan monyet-monyetnya), dan Air Terjun Nung-nung.

1 komentar:

Lea mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Artikel Blog