Blog Of Visitor

Kamis, 18 Desember 2008

PICI-PICI SIPUT CANTIK PENGHUNI POHON

By Devita Sri Raihana
Teman-teman sudah pernah dengar "Pici-pici" belum?, di bali instilah ini digunakan untuk menamai siput kecil yang hidup di pohon atau air seperti di sawah. Namun kali ini papaku menemukan pici-pici alias siput kecil cantik yang sedang asyik nongkrong pada sebuah batang pohon. Sebenarnya pici-pici ini sekarang sudah sangat sulit dijumpai karena kemungkinan sudah hampir punah akibat habitatnya telah berubah menjadi hotel, vila, atau jalan. Karena bentuk dan warnanya yang sangat unik maka papaku menyempatkan diri untuk membuat dokumentasi mengenai pici-pici ini. Pici-pici ini sangat berbeda bentuknya dengan bekicot yang jauh lebih besar, bekicot terkenal sebagai hewan herbivora alias pemakan tumbuhan berupa daun-daunan. Kalau di darat saja terdapat berbagai macam jenis siput, lebih-lebih lagi siput yang hidup di air seperti sawah, danau, sungai, ataupun laut. Di sawah siput ini biasanya terkenal sebagai hama karena sering memakan batang tanaman padi, sehingga padi menjadi rusak, kalau di Bali siput air ini ada beberapa jenis yang sudah terkenal yaitu : 1. Kakul adalah sejenis siput air yang lebih besar dari pici-pici air dan kakul ini dapat dijadikan bahan makanan yang berprotein tinggi. 2. Pici-pici air adalah sejenis siput air yang bentuknya lebih kecil dari kakul, karena pici-pici air ini memang tidak bisa tumbuh besar, adapun pici-pici air ini senang makan tanaman padi atau rumput-rumputan. Dari beberapa artikel terkenal yang sering dibaca papaku pengertian siput itu adalah nama umum yang diberikan untuk hampir semua anggota kelas mollusca Gastropoda yang memiliki cangkang bergelung pada tahap dewasa. Kelas Gastropoda menempati urutan kedua terbanyak dari segi jumlah spesies anggotanya setelah insekta. Habitat, bentuk, tingkah laku, dan anatomi siputpun sangat bervariasi antar spesies.
Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda; dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator.
Siput Laut sebagai Obat
Conus geographus, siput beracun yang banyak dijumpai di bawah laut tropis khususnya Indonesia dan philiphina. Racun yang dikeluarkan berupa ratusan polipeptida toksik yang digunakan untuk membunuh ikan yang akan dimakan, mengingat binatang ini bersifat karnifora. Salah satu polipeptidnya yang bernama omega-conotoxin MVIIA telah di setujui oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika untuk obat nyeri pada pasien kanker, AIDS dan ganguan syaraf tertentu.Obat ini di produksi oleh Elan Corporation dengan nama dagang prialt (ziconotide intratechal infusion) dan tercatat sebagai obat pertama yang dikode oleh gene invertebrata dipakai di klinik. Omega-conotoxin MVIIA dapat menghambat transportasi kalsiun di dalam sel saraf yang akan menghantarkan sinyal rasaya nyeri. Di samping juga dari hasil percobaan bahwa senyawa ini memiliki kemampuan penghilang rasa sakit seribu kali lebih ampuh di banding morphine. Salah satu keunggulannya adalah senyawa peptida ini mirip dengan neuropeptida sehingga akan terhindar dari ketergantungan/ketagihan akan obat tersebut.Senyawa obat ini buah dari penelitian Dr Baldomero M. Olivera, warga Negara philipina yang sekarang bekerja di universitas Utah, Amerika serikat. Pada 1970, Dr olivera berkeinginan melakukan penelitian di philipina, karena tidak memiliki fasilitas di laboratoriumnya akhirnya menentukan pilihan meneliti siput beracun jenis Conus geographus. Namun berkat kerja keras dan ketekunannaya akhirnya penelitiannya membuahkan hasil yang cukup gemilang dan membantu para penderita nyeri yang banyak dialami oleh manusia dengan berbagai sebab.Ini memberikan teladan bagi para peneliti di Negara-negara yang tidak cukup mememiliki banyak dana penelitian, seperti Indonesia untuk meniru strategi dan usaha kerasnya dalam meneliti.Sampai saat ini Dr olivera telah berhasil memurnikan 150 peptida dari venom tersebut dan telah mengetahui urutan asam amino lebih dari 2000 jenis peptida racun yang dihasilkan oleh conus/siput laut. Peptida-peptida yang dihasilkan oleh siput ini umumnya memiliki panjang 12 sampai 35 asam amino dan memiliki daya ikat spesifik ke permukaan sel atau reseptornya. Sehingga bekerjanya senyawa tersebut bersifat spesifik sehingga sangat cocok untuk obat. Keunggulan lain senyawa ini adalah sangat cepat beraksi didalam sel serta sangat gampang untuk memproduksinya.Selain Omega-conotoxin MVIIA, masih ada beberapa senyawa lain yang telah di ujicobakan pada pasien diantaranya Contulakin-G yang bisa di gunakan untuk mengobati epilepsy. Mengingat ada sekitar lebih dari 500 spesies dari siput ini, dan jika masing-masing siput memiliki 50-200 senyawa aktif maka dapat diperkirakan masih ada lebih dari 50000 jenis senyawa aktif yang perpotensi untuk obat-obatan yang belum terungkap.Indonesia yang kaya laut dan kaya invertebrata-nya termasuk spesies conus tersebut, maka penemuan tersebut membuka peluang besar untuk peneliti Indonesia mengali potensi alamnya untuk penemuan obat baru dan pada akhirya akan mendatangkan devisa dan kemakmuran masyarakat.Widodo, Tsukuba University

Rabu, 17 Desember 2008

BALANG ALIAS WALANG (Bali) BELALANG (Indonesia)

By Devita Sri Raihana
Belalang adalah serangga herbivora dari subordo Caelifera dalam ordo Orthoptera. Serangga ini memiliki antena yang hampir selalu lebih pendek dari tubuhnya dan juga memiliki ovipositor pendek. Suara yang ditimbulkan beberapa spesies belalang biasanya dihasilkan dengan menggosokkan femur belakangnya terhadap sayap depan atau abdomen (disebut stridulasi), atau karena kepakan sayapnya sewaktu terbang. Femur belakangnya umumnya panjang dan kuat yang cocok untuk melompat. Serangga ini umumnya bersayap, walaupun sayapnya kadang tidak dapat dipergunakan untuk terbang. Belalang betina umumnya berukuran lebih besar dari belalang jantan.
Khasiat Belalang Dalam Dunia Pengobatan Tradisional
Dapat mengobati penyakit susah kecing dan wasir, yaitu belalang dimasak dengan uap air panas atau dikuskus kemudian dikomsumsi sebagai obat. Menurut para akhli pengobatan tradisional belalang ini juga bisa digunakan sebagai zat anti racun atau untuk menawarkan bisa racun kalajengking yaitu belalang dimasak dengan cara dibakar atau di oven kemudian dijadikan serbuk tablet untuk obat.
Zat Kandungan Belalang menurut Akhli Gizi dan Pangan
Jikalau dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB Sutrisno Koswara berpendapat bahwa pada serangga, termasuk belalang, ditemukan kandungan protein antara 40-60 persen, belalang ini juga dikomsumsi oleh masyarakat Gunung Kidul (Jogjakarta), menyantap belalang bukalah merupakan hal yang aneh karena belalang ini sudah terbukti banyak mengandung protein dan nilai gizi yang tinggi. Juga di sebuah negara di Afrika dimana rakyat Zimbabwe dan Etiopia menjadikan belalang sebagai tepung bahan kue. Di banyak negara Afrika, belalang termasuk seranggga yang penting sebagai sumber protein.
Belalang Dianggap sebagai Hama
Belalang memang hanya serangga. Bagi banyak orang, serangga lebih dicap sebagai hama ketimbang bahan makanan, apalagi sumber protein. Jika tanaman padi diserang belalang maka bisa diperkirakan akan terjadi gagal panen, tentunya akan mempengaruhi produksi panen di Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris. Jadi para penangkap belalang tentunya lebih banyak menguntungkan para petani karena paling tidak bisa mengurangi populasi hama belalang di suatu daerah, dan juga belalang hasil tangkapan bisa dijadikan bahan pangan yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.

BULE JUGA SENANG DENGAN JUWET LHO

By Devita Sri Raihana
Teman - teman apakah tau yang namanya "Juwet?" di Bali Juwet ini adalah tanaman yang sudah langka alias sudah jarang ditemui kecuali di daerah pegunungan atau kebun-kebun penduduk yang berada di daerah pegunungan yang masih alami. Pohon juwet ini biasanya tumbuh secara alami melalui biji. Namun tidak menutup kemungkinan pohon juwet ini bisa dibudidayakan untuk memperoleh manfaat yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Photo pada posting ini adalah dari papaku tanggal 18 Desember 2008, saat papaku meninjau sebuah lokasi tanah bersama para investor dari Amerika & Jepang yang ingin membangun sebuah kawasan Villa Mewah di kawasan Nusa Dua Selatan-Bali. Ternyata mereka para investor juga sangat menyukai Juwet ini, katanya rasanya sepet-sepet manis, ya maklum mereka katanya baru pertama kali mencicipi buah Juwet ini. Selain di Bali tanaman ini juga terdapat di daerah lain seperti Jawa, dimana disana terkenal dengan sebutan "Jamblang", atau "Anggur Jawa". Jamblang, jambu keling atau duwet adalah sejenis pohon buah dari suku jambu-jambuan (Myrtaceae). Tumbuhan berbuah sepat masam ini dikenal pula dengan berbagai nama seperti jambee kleng (Aceh), jambu kling (Gayo), jambu kalang (Min.), jambulang, jambulan, jombulan, jumblang (aneka nama lokal di Sulut), jambulan (Flores), jambula (Ternate), jamblang (Btw., Sd.). Juga jambu juwat, jiwat, jiwat padi (Ind., juwet atau duwet (Jw.), juwet, jujutan (Bl.), dhuwak, dhalas (Md.), duwe (Bima) dan lain-lain.
Dalam pelbagai bahasa asing buah ini dikenal sebagai jambulan, jambulana (Malaysia), duhat (Filipina), jambul, jamun, atau Java plum (Ingg.), dan lain-lain. Nama ilmiahnya adalah Syzygium cumini.
Pohon yang kokoh dan tidak menggugurkan daun, kadang-kadang berbatang bengkok, tinggi hingga 20 m dan gemang mencapai 90 cm. Bercabang rendah dan bertajuk bulat atau tidak beraturan. Daun-daunnya terletak berhadapan, bertangkai 1-3,5 cm. Helaian daun bundar telur terbalik agak jorong sampai jorong lonjong, 5-25 x 2-10 cm, pangkal berbentuk pasak atau membundar, ujung tumpul atau agak melancip, bertepi rata, menjangat tebal dengan tepi yang tipis dan agak tembus pandang. Hijau tua berkilat di sebelah atas, daun jamblang agak berbau terpentin apabila diremas. Daun yang muda berwarna merah jambu. Karangan bunga dalam malai atau malai rata, renggang, hingga tiga kali bercabang; umumnya muncul pada cabang-cabang yang tak berdaun. Bunga kecil, duduk rapat-rapat, 3-8 kuntum di tiap ujung tangkai, berbau harum. Daun kelopak bentuk lonceng melebar atau corong, tinggi 4-6 mm, kuning sampai keunguan. Daun mahkota bundar dan lepas-lepas, 3 mm, putih abu-abu sampai merah jambu, mudah gugur. Benang sari banyak, 4-7 mm; putik 6-7 mm. Buah buni berbentuk lonjong sampai bulat telur, sering agak bengkok, 1-5 cm, bermahkota cuping kelopak, dengan kulit tipis licin mengkilap, merah tua sampai ungu kehitaman, kadang-kadang putih. Sering dalam gerombolan besar. Daging buah putih, kuning kelabu sampai agak merah ungu, hampir tak berbau, dengan banyak sari buah, sepat masam sampai masam manis. Biji lonjong, sampai 3,5 cm. Buah jamblang biasa dimakan segar. Di India dan Filipina, seperti juga kebiasaan di beberapa daerah di Indonesia, buah jamblang yang masak dicampur dengan sedikit garam dan kadang-kadang ditambahi gula, lalu dikocok di dalam wadah tertutup (biasanya dua mangkuk ditangkupkan) sehingga lunak dan berkurang sepatnya. Buah yang kaya vitamin A dan C ini juga dapat dijadikan sari buah, jeli atau anggur. Di Filipina, anggur jamblang diusahakan secara komersial. Kayunya dapat digunakan untuk bahan bangunan, meskipun tidak istimewa dan agak mudah pecah. Kayu ini cukup kuat, tahan air dan serangan serangga; sekalipun agak sukar dikerjakan. Yang terlebih sering ialah digunakan sebagai kayu bakar. Kulit kayunya menghasilkan zat penyamak (tanin) dan dimanfaatkan untuk mewarnai (ubar) jala. Kepingan kecil pepagan ini juga terkadang dibubuhkan untuk menghambat keasaman tuak. Daunnya kerap digunakan sebagai pakan ternak. Beberapa bagian tumbuhan juga dipergunakan sebagai bahan obat, tradisional maupun modern. Kulit batang, daun, buah dan bijinya acapkali digunakan sebagai obat kencing manis, murus (diare), dan beberapa penyakit lain. Bahkan simplisia dari kulit batang (dikenal sebagai Syzygii cortex) dan biji jamblang (disebut Syzygii semen) dahulu dianjurkan sebagai sediaan apotek yang tidak wajib. Di samping tanin, bahan aktif yang dikandungnya antara lain adalah glukosida yambolin (jamboline). Pohon jamblang juga sering ditanam sebagai pohon peneduh di pekarangan dan perkebunan (misalnya untuk meneduhi tanaman kopi), atau sebagai penahan angin (wind break). Bunga-bunganya baik sebagai pakan lebah madu.

Artikel Blog