Blog Of Visitor

Rabu, 17 Desember 2008

BUKAN JATI EMAS DI BUKIT PENISULA

By Devita Sri Raihana
Suatu waktu ketika papaku ditawari seseorang untuk membuat sebuah photo kondisi sebuah kawasan yang akan dibangun sebuah perhotelan mewah di sebuah kawasan Bukit Penisula (Badung-Bali), ternyata disana papaku menemukan banyak pohon jati sebagai penghijauan, padahal disana tanahnya berkapur dan sangat kering. Menurut pemilik lahan Bapak Ambara yang bertubuh tinggi besar, lahan itu adalah milik ayahnya yang diwariskan padanya, kemudian beliau ingin menyewakan lahan itu selama lima puluh tahun kepada investor, dan kebetulan saat itu papaku bertugas untuk membuat dokumentasi photo tanah yang akan dikembangkan oleh investor asing tersebut. Karena banyak pohon jati yang ditanam disana kemungkinan itu adalah jati unggul atau jati emas, namun belakangan papaku mengetahui kalau pohon jati tersebut bukanlah jati emas melainkan jati biasa alias jati lokal, dan lebih kaget lagi jati tersebut bukan ditanam melainkan tumbuh dengan sendirinya melalui proses alami yaitu bijinya diterbangkan oleh angin dan kemudian sampailah di tempat mereka tumbuh besar seperti saat ini. Dari beberapa artikel yang aku baca yang mungkin bisa menambah pengetahuan kita tentang pohon jati ini adalah seperti berikut ini :
Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang. Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun. Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya. Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu. Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil. Jati menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau. Menurut sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang kemudian menyebar ke Semenanjung India, Muangthai, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan Laos. Sekitar 70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India, Thailand, Jawa, Srilangka, dan Vietnam. Namun, pasokan dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Lainnya berasal dari hasil hutan tanaman jati. Jati paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909). Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl. Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari satu jenis pohon. Ini dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk keluar pada saat musim hujan tiba. Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan bakar yang dapat memicu kebakaran —yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati. Tanah yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air. Pada masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu. Namun pengujian variasi isozyme yang dilakukan oleh Kertadikara (1994) menunjukkan bahwa jati di Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun yang silam (Mahfudz dkk., t.t. ). Karena nilai kayunya, jati kini juga dikembangkan di luar daerah penyebaran alaminya. Di Afrika tropis, Amerika tengah, Australia, New Zealand, Pasifik dan Taiwan. Sebaran hutan jati di Indonesia Di Indonesia sendiri, selain di Jawa dan Muna, jati juga dikembangkan di Bali dan Nusa Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk mengembangkan jati di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Hasilnya kurang menggembirakan. Jati mati setelah berusia dua atau tiga tahun. Masalahnya, tanah di kedua tempat ini sangat asam. Jati sendiri adalah jenis yang membutuhkan zat kalsium dalam jumlah besar, juga zat fosfor. Selain itu, jati membutuhkan cahaya matahari yang berlimpah. Sekarang, di luar Jawa, kita dapat menemukan hutan jati secara terbatas di beberapa tempat di Pulau Sulawesi, Pulau Muna, daerah Bima di Pulau Sumbawa, dan Pulau Buru. Jati berkembang juga di daerah Lampung di Pulau Sumatera. Pada 1817, Raffles mencatat jika hutan jati tidak ditemukan di Semenanjung Malaya atau Sumatera atau pulau-pulau berdekatan. Jati hanya tumbuh subur di Jawa dan sejumlah pulau kecil di sebelah timurnya, yaitu Madura, Bali, dan Sumbawa. Perbukitan di bagian timur laut Bima di Sumbawa penuh tertutup oleh jati pada saat itu. Heyne, pada 1671, mencatat keberadaan jati di Sulawesi, walau hanya di beberapa titik di bagian timur. Ada sekitar 7.000 ha di Pulau Muna dan 1.000 ha di pedalaman Pulau Butung di Teluk Sampolawa. Heyne menduga jati sesungguhnya terdapat pula di Pulau Kabaena, serta di Rumbia dan Poleang, di Sulawesi Tenggara. Analisis DNA mutakhir memperlihatkan bahwa jati di Sulawesi Tenggara merupakan cabang perkembangan jati jawa. Jati yang tumbuh di Sulawesi Selatan baru ditanam pada masa 1960an dan 1970an. Ketika itu, banyak lahan di Billa, Soppeng, Bone, Sidrap, dan Enrekang sedang dihutankan kembali. Di Billa, pertumbuhan pohon jatinya saat ini tidak kalah dengan yang ada di Pulau Jawa. Garis tengah batangnya dapat melebihi 30 cm. Penyebaran jati ke Jawa Walaupun menyebar luas di Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil, mayoritas ahli sepakat bahwa jati bukan tumbuhan asli di Indonesia. Ada beberapa dugaan tentang asal mula budidaya jati di Indonesia. Raffles menunjukkan bahwa, pada abad ke-15 dan ke-16, hutan jati yang terdekat dengan Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil berada di Siam dan Pegu. Kedua negeri itu tercatat pernah mengekspor barang ke Jawa melalui kapal-kapal besar. Ia lantas menduga bahwa orang laut dulu mengimpor jati, entah dari Pegu, entah dari Malabar. Oleh karena jarak antarpohon cenderung beraturan, Altma (1922) memperkirakan bahwa hutan jati di Jawa mungkin merupakan hasil penanaman di akhir era Hindu (abad ke-14 hingga ke-16). Ia menduga jika penguasa Jawa masa itu telah menganggap jati sebagai suatu pohon suci. Mereka lantas mengimpor jenis pohon itu dari Kelinga di pantai timur India Selatan sejak abad kedua. Jati memang banyak ditemukan di sekitar candi-candi untuk menghormati Dewa Syiwa. Namun, Simatupang (2000) melihat jika jati telah menyebar jauh lebih luas. Ia menduga penyebaran yang lebih luas ini berkat keterlibatan para petani sekitar candi. Para petani itu sudah melihat kegunaan jati dan budidayanya yang mudah. Simatupang menduga bahwa, di tempat-tempat tertentu di Jawa yang tidak cocok untuk persawahan, perladangan berpindah dipraktikkan. Perladangan berpindah adalah cara bertani yang biasa dilakukan semasa itu di banyak daerah lain di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Sebelum berpindah ladang, petani-petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur mungkin telah menanam pohon jati. Oleh karena sesuai dengan iklim kering setempat yang kerap menimbulkan kebakaran, jati kemudian menjadi spesies dominan. Daerah sebaran hutan jati di Jawa Sedini 1927, hutan jati tercatat menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Kerawang hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200 meter di atas permukaan laut. Di kedua provinsi ini, hutan jati sering terbentuk secara alami akibat iklim muson yang menimbulkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di Jawa terpusat di daerah alas roban Rembang, Blora, Groboragan, dan Pati. Bahkan, jati jawa dengan mutu terbaik dihasilkan di daerah tanah perkapuran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Saat ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Ini nyaris setara dengan setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa. Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap. Kayu teras jati berwarna coklat muda, coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal, di bagian luar, berwarna putih dan kelabu kekuningan. Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat furniture dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah. Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas. Sekalipun relatif mudah diolah, jati terkenal sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan juga sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Tukang kayu di Eropa pada abad ke-19 konon meminta upah tambahan jika harus mengolah jati. Ini karena kayu jati sedemikian keras hingga mampu menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Manual kelautan Inggris bahkan menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok yang terbuat dari jati karena dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan. Pada abad ke-17, tercatat jika masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan akar jati sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami untuk barang anyaman mereka. Di Jawa Timur, masyarakat Pulau Bawean menyeduh daun jati untuk menghasilkan bahan pewarna coklat merah alami. Orang Lamongan memilih menyeduh tumbukan daun mudanya. Sementara itu, orang Pulau Madura mencampurkan tumbukan daun jati dengan asam jawa. Pada masa itu, pengidap penyakit kolera pun dianjurkan untuk meminum seduhan kayu dan daun jati yang pahit sebagai penawar sakit. Jati burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati jawa. Namun, di Indonesia sendiri, jati jawa menjadi primadona. Tekstur jati jawa lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan jati dari daerah lain di negeri ini. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) sangat terkenal dan diburu oleh para kolektor di luar negeri. Menurut sifat-sifat kayunya, di Jawa orang mengenal beberapa jenis jati (Mahfudz dkk., t.t.): 1. Jati lengo atau jati malam, memiliki kayu yang keras, berat, terasa halus bila diraba dan seperti mengandung minyak (Jw.: lengo, minyak; malam, lilin). Berwarna gelap, banyak berbercak dan bergaris. 2. Jati sungu. Hitam, padat dan berat (Jw.: sungu, tanduk). 3. Jati werut, dengan kayu yang keras dan serat berombak. 4. Jati doreng, berkayu sangat keras dengan warna loreng-loreng hitam menyala, sangat indah. 5. Jati kembang. 6. Jati kapur, kayunya berwarna keputih-putihan karena mengandung banyak kapur. Kurang kuat dan kurang awet. Kayu jati mengandung semacam minyak dan endapan di dalam sel-sel kayunya, sehingga dapat awet digunakan di tempat terbuka meski tanpa divernis; apalagi bila dipakai di bawah naungan atap. Jati sejak lama digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal laut, termasuk kapal-kapal VOC yang melayari samudera di abad ke-17. Juga dalam konstruksi berat seperti jembatan dan bantalan rel. Di dalam rumah, selain dimanfaatkan sebagai bahan baku furniture, kayu jati digunakan pula dalam struktur bangunan. Rumah-rumah tradisional Jawa, seperti rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan kayu jati di hampir semua bagiannya: tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir. Dalam industri kayu sekarang, jati diolah menjadi venir (veneer) untuk melapisi wajah kayu lapis mahal; serta dijadikan keping-keping parket (parquet) penutup lantai. Selain itu juga diekspor ke mancanegara dalam bentuk furniture luar-rumah. Ranting-ranting jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap. Sebagian besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar.
Fungsi ekonomis hutan jati jawa: hasil hutan kayu
Sebagai jenis hutan paling luas di Pulau Jawa, hutan jati memiliki nilai ekonomis, ekologis, dan sosial yang penting. Kayu jati jawa telah dimanfaatkan sejak jaman Kerajaan Majapahit. Jati terutama dipakai untuk membangun rumah dan alat pertanian. Sampai dengan masa Perang Dunia Kedua, orang Jawa pada umumnya hanya mengenal kayu jati sebagai bahan bangunan. Kayu-kayu bukan jati disebut ‘kayu tahun’. Artinya, kayu yang keawetannya untuk beberapa tahun saja. Selain itu, jati digunakan dalam membangun kapal-kapal niaga dan kapal-kapal perang. Beberapa daerah yang berdekatan dengan hutan jati di pantai utara Jawa pun pernah menjadi pusat galangan kapal, seperti Tegal, Juwana, Tuban, dan Pasuruan. Namun, galang kapal terbesar dan paling kenal berada di Jepara dan Rembang, sebagaimana dicatat oleh petualang Tomé Pires pada awal abad ke-16. VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, Kompeni Hindia Timur Belanda) bahkan sedemikian tertarik pada “emas hijau” ini hingga berkeras mendirikan loji pertama mereka di Pulau Jawa —tepatnya di Jepara— pada 1651. VOC juga memperjuangkan izin berdagang jati melalui Semarang, Jepara, dan Surabaya. Ini karena mereka menganggap perdagangan jati akan jauh lebih menguntungkan daripada perdagangan rempah-rempah dunia yang saat itu sedang mencapai puncak keemasannya. Di pertengahan abad ke-18, VOC telah mampu menebang jati secara lebih modern. Dan, sebagai imbalan bantuan militer mereka kepada Kerajaan Mataram di awal abad ke-19, VOC juga diberikan izin untuk menebang lahan hutan jati yang luas. VOC lantas mewajibkan para pemuka bumiputera untuk menyerahkan kayu jati kepada VOC dalam jumlah tertentu yang besar. Melalui sistem blandong, para pemuka bumiputera ini membebankan penebangan kepada rakyat di sekitar hutan. Sebagai imbalannya, rakyat dibebaskan dari kewajiban pajak lain. Jadi, sistem blandong tersebut merupakan sebentuk kerja paksa. VOC kemudian memboyong pulang gelondongan jati jawa ke Amsterdam dan Rotterdam. Kedua kota pelabuhan terakhir ini pun berkembang menjadi pusat-pusat industri kapal kelas dunia. Di pantai utara Jawa sendiri, galangan-galangan kapal Jepara dan Rembang tetap sibuk hingga pertengahan abad ke-19. Mereka gulung tikar hanya setelah banyak pengusaha perkapalan keturunan Arab lebih memilih tinggal di Surabaya. Lagipula, saat itu kapal lebih banyak dibuat dari logam dan tidak banyak bergantung pada bahan kayu. Namun, pascakemerdekaan negeri ini, jati jawa masih sangat menguntungkan. Produksi jati selama periode emas 1984-1988 mencapai 800.000 m3/tahun. Ekspor kayu gelondongan jati pada 1989 mencapai 46.000 m3, dengan harga jual dasar 640 USD/m3. Pada 1990, ekspor gelondongan jati dilarang oleh pemerintah karena kebutuhan industri kehutanan di dalam negeri yang melonjak. Sekalipun demikian, Perhutani mencatat bahwa sekitar 80% pendapatan mereka dari penjualan semua jenis kayu pada 1999 berasal dari penjualan gelondongan jati di dalam negeri. Pada masa yang sama, sekitar 89% pendapatan Perhutani dari ekspor produk kayu berasal dari produk-produk jati, terutama yang berbentuk garden furniture (mebel taman).
Manfaat yang lain
Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi jamblang yang terkenal dari daerah Jamblang, Cirebon. Daun jati juga banyak digunakan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pembungkus tempe. Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw. walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat-jati (Endoclita). Ulat jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya. Ulat ini dikumpulkan menjelang musim hujan, di pagi hari ketika ulat-ulat itu bergelantungan turun dari pohon untuk mencari tempat untuk membentuk kepompong (Jw. ungkrung). Kepompong ulat jati pun turut dikumpulkan dan dimakan. Fungsi ekonomis lain dari hutan jati jawa Jika berkunjung ke hutan-hutan jati di Jawa, kita akan melihat bahwa kawasan-kawasan itu memiliki fungsi ekonomis lain di samping menghasilkan kayu jati. Banyak pesanggem (petani) yang hidup di desa hutan jati memanfaatkan kulit pohon jati sebagai bahan dinding rumah mereka. Daun jati, yang lebar berbulu dan gugur di musim kemarau itu, mereka pakai sebagai pembungkus makanan dan barang. Cabang dan ranting jati menjadi bahan bakar bagi banyak rumah tangga di desa hutan jati. Hutan jati terutama menyediakan lahan garapan. Di sela-sela pepohonan jati, para petani menanam palawija berbanjar-banjar. Dari hutan jati sendiri, mereka dapat memperoleh penghasilan tambahan berupa madu, sejumlah sumber makanan berkarbohidrat, dan obat-obatan. Makanan pengganti nasi yang tumbuh di hutan jati misalnya adalah gadung (Dioscorea hispida) dan uwi (Dioscorea alata). Bahkan, masyarakat desa hutan jati juga memanfaatkan iles-iles (Ammorphophallus) pada saat paceklik. Tumbuhan obat-obatan tradisional seperti kencur (Alpina longa), kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), dan temu lawak (Curcuma longa) tumbuh di kawasan hutan ini. Pohon jati juga menghasilkan bergugus-gugus bunga keputihan yang merekah tak lama setelah fajar. Masa penyerbukan bunga jati yang terbaik terjadi di sekitar tengah hati —setiap bunga hidup hanya sepanjang satu hari. Penyerbukan bunga dilakukan oleh banyak serangga, tetapi terutama oleh jenis-jenis lebah. Oleh karena itu, penduduk juga sering dapat memanen madu lebah dari hutan-hutan jati. Masyarakat desa hutan jati di Jawa juga biasa memelihara ternak seperti kerbau, sapi, dan kambing. Jenis ternak tersebut memerlukan rumput-rumputan sebagai pakan. Walaupun para petani kadang akan mudah mendapatkan rerumputan di sawah atau tegal, mereka lebih banyak memanfaatkan lahan hutan sebagai sumber penghasil makanan ternak. Dengan melepaskan begitu saja ternak ke dalam hutan, ternak akan mendapatkan beragam jenis pakan yang diperlukan. Waktu yang tidak dipergunakan oleh keluarga petani untuk mengumpulkan rerumputan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya.
Fungsi non-ekonomis hutan jati jawa
Pada 2003, sekitar 76% lahan hutan jati Perhutani di Jawa dikukuhkan sebagai hutan produksi, yaitu kawasan hutan dengan fungsi pokok memproduksi hasil hutan (terutama kayu). Hanya kurang dari 24% hutan jati Perhutani dikukuhkan sebagai hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, dan cagar alam. Mengingat lahannya yang relatif cukup luas, hutan jati dipandang memiliki fungsi-fungsi non-ekonomis yang penting. Fungsi-fungsi non-ekonomis tersebut adalah sebagai berikut: Fungsi penyangga ekosistem Tajuk pepohonan dalam hutan jati akan menyerap dan menguraikan zat-zat pencemar (polutan) dan cahaya yang berlebihan. Tajuk hutan itu pun melakukan proses fotosintesis yang menyerap karbondioksida dari udara dan melepaskan kembali oksigen dan uap air ke udara. Semua ini membantu menjaga kestabilan iklim di dalam dan sekitar hutan. Hutan jati pun ikut mendukung kesuburan tanah. Ini karena akar pepohonan dalam hutan jati tumbuh melebar dan mendalam. Pertumbuhan akar ini akan membantu menggemburkan tanah, sehingga memudahkan air dan udara masuk ke dalamnya. Tajuk (mahkota hijau) pepohonan dan tumbuhan bawah dalam hutan jati akan menghasilkan serasah, yaitu jatuhan ranting, buah, dan bunga dari tumbuhan yang menutupi permukaan tanah hutan. Serasah menjadi bahan dasar untuk menghasilkan humus tanah. Berbagai mikroorganisme hidup berlindung dan berkembang dalam serasah ini. Uniknya, mikroorganisme itu juga yang akan memakan dan mengurai serasah menjadi humus tanah. Serasah pun membantu meredam entakan air hujan sehingga melindungi tanah dari erosi oleh air. Fungsi biologis Jika hutan jati berbentuk hutan murni —sehingga lebih seperti ‘kebun’ jati— erosi tanah justru akan lebih besar terjadi. Tajuk jati rakus cahaya matahari sehingga cabang-cabangnya tidak semestinya bersentuhan. Perakaran jati juga tidak tahan bersaing dengan perakaran tanaman lain. Dengan demikian, serasah tanah cenderung tidak banyak. Tanpa banyak tutupan tumbuhan pada lantai hutan, lapisan tanah teratas lebih mudah terbawa oleh aliran air dan tiupan angin. Untunglah, hutan jati berkembang dengan sejumlah tanaman yang lebih beragam. Di dalam hutan jati, kita dapat menemukan bungur (Lagerstroemia speciosa), dlingsem (Homalium tomentosum), dluwak (Grewia paniculata), katamaka (Kleinhovia hospita), kemloko (Phyllanthus emblica), kepuh (Sterculia foetida), kesambi (Schleichera oleosa), laban (Vitex pubscens), ploso (Butea monosperma), serut (Streblus asper), trengguli (Cassia fistula), winong (Tetrameles nudflora), dan lain-lain. Lamtoro (Leucenia leucocephalla) dan akasia (Acacia villosa) pun ditanam sebagai tanaman sela untuk menahan erosi tanah dan menambah kesuburan tanah. Daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, yang gersang dan rusak parah sebelum 1978, ternyata berhasil diselamatkan dengan pola penanaman campuran jati dan jenis-jenis lain ini. Dalam selang waktu hampir 30 tahun, lebih dari 60% lahan rusak dapat diubah menjadi lahan yang menghasilkan. Penduduk setempat paling banyak memilih menanam jati di lahan mereka karena melihat nilai manfaatnya, cara tanamnya yang mudah, dan harga jual kayunya yang tinggi. Mereka mencampurkan penanaman jati di kebun dan pekarangan mereka dengan mahoni (Swietenia mahogany), akasia (Acacia villosa), dan sonokeling (Dalbergia latifolia). Daerah Gunung Kidul kini berubah menjadi lahan hijau yang berhawa lebih sejuk dan memiliki keragaman hayati yang lebih tinggi. Perubahan lingkungan itu telah mengundang banyak satwa untuk singgah, terutama burung —satwa yang kerap dijadikan penanda kesehatan suatu lingkungan. Selain itu, kekayaan lahan ini sekaligus menjadi cadangan sumberdaya untuk masa depan. Fungsi sosial Banyak lahan hutan jati di Jawa, baik yang dikukuhkan sebagai hutan produksi maupun hutan non-produksi, memberikan layanan sebagai pusat penelitian dan pendidikan, pusat pemantauan alam, tempat berekreasi dan pariwisata, serta sumber pengembangan budaya.Yang mungkin paling menarik untuk dikunjungi adalah Monumen Gubug Payung di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Tempat ini merupakan museum hidup dari pepohonan jati yang berusia lebih dari seabad, setinggi rata-rata di atas 39 meter dan berdiameter rata-rata 89 sentimeter.Kita dapat menikmati pemandangan hutan dari ketinggian dengan menumpang loko “Bahagia”. Di sini, kita juga dapat meninjau Arboretum Jati; hutan buatan dengan koleksi 32 jenis pohon jati yang tumbuh di seluruh Indonesia. Ada juga Puslitbang Cepu yang mengembangkan bibit jati unggul yang dikenal sebagai JPP (Jati Plus Perhutani). Pengunjung boleh membeli sapihan jati dan menanamnya sendiri di sini. Pengelola kemudian akan merawat dan menamai pohon itu sesuai dengan nama pengunjung bersangkutan.

Selasa, 16 Desember 2008

GAMAL TANAMAN PENGHIJAUAN YANG BANYAK MANFAATNYA

By Devita Sri Raihana
Pohon Gamal, bahasa latinnya adalah Gliricidia Sepium. Sama halnya dengan Kaliandra maka jenis tanaman ini masuk ke dalam kelompok polong-polongan atau Leguminoseae. Gamal merupakan akronim dari Ganyang Mati Alang-Alang yang dikarenakan bermanfaat untuk mencegah pertumbuhan alang-alang. Di daerah Priangan julukan pohon ini adalah Cebreng, Tancep Langsung Breng (Tumbuh). Di daerah pantai selatan pulau Jawa maka pohon ini bermanfaat sebagai pematah kecepatan angin laut. Daun Gamal dapat diberikan sebagai Pakan Ternak dengan Kandungan Gizi adalah 3 – 6,4% Nitrogen, 0,31% P, 0,77% K, 15 – 30% serat kasar dan 10% Abu. Daun Gamal yang rontok dan jatuh ke tanah pada musim kemarau sangat bermanfaat juga untuk meningkatkan bahan organik serta kadar nitrogen tanah. Pohon Gamal juga dijadikan pohon rambatan Vanili di lahan perkebunan . Daunnya dapat diberikan sebagai Pakan Ternak saat dilakukan Pemangkasan. Pohon, tinggi 2-6 m. Akar, tunggang, berserabut banyak, putih kecoklatan. Batang, tegak, bulat berkerak, berkayu, putih krem, mudah retak; permukaan kulit agak kasar, retak-retak kecil, berlentisel jarang, hijau kecoklatan. Cabang, silindris, berkayu, putih; permukaan kulit berlentisel, hijau muda berkilau. Daun, majemuk, tersebar, bertangkai: tangkai daun 8-12 cm, silindris, gundul, menebal di bagian pangkal, hijau muda; helaian daun, elips hingga jorong, 3-7 x 1,5-3 cm, pangkal tumpul hingga membulat, ujung meruncing, tepi rata; permukaan atas gundul hijau tua, permukaan bawah gundul hijau muda; ibu tulang daun rata pada permukaan atas, menonjol pada permukaan bawah, hijau keputihan; tulang daun sekunder menyirip, 4-6 pasang; urat daun tidak jelas. Perbungaan majemuk, berkarang, berkelamin 2, keluar dari ketiak daun, bertangkai: tangkai bunga 0,5-1 cm, silindris, putih; benang sari kuning, putik putih. Buah, polongan, 10-11,5 cm, hijau. Biji, kecil, coklat. Ekologi, tumbuh dengan baik di daerah lembab hingga daerah yang beriklim kering, banyak di temui di tepi jalan, tepi sungai, di ladang, kebun dan pekarangan sebagai tanaman pagar, serta di tempat-tempat terbuka. Jenis ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan ketinggian tempat 1-2000 m dpl. Distribusi, di Indonesia meliputi hampir seluruh wilayah Nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Ambon Ternate, Tidore dan Irian Jaya.
Kegunan dalam hal pengobatan : Pohon gamal berkhasiat sebagai obat penyubur rambut dan penghalus kulit.
Tanaman ini telah lama dapat diperbanyak dengan menggunakan stek batang/cabang dan biji. Cara perbanyakan yang umum dilakukan adalah dengan stek batang/cabang. Perbanyakan dengan stek dilakukan dengan memilih batang atau cabang yang tidak terlalu tua atau terlalu muda dari pohon induk yang tidak terkena penyakit, berdiameter 1,5-2 cm, panjang 15-30 cm, kemudian dipotong miring dan segera ditancapkan pada media tanam di polibag terlebih dulu hingga stek bertunas. Penanaman dilakukan di lapangan yang telah digemburkan tanahnya hingga subur dan pemberian pupuk kandang atau pupuk organik yang telah masak secukupnya, jarak tanam 1x1 m. Gamal tidak membutuhkan perawatan yang intensif, hanya pemangkasan dan penjarangan agar tanaman ini lebih teratur. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musin penghujan atau pada ahir musim kemarau.
Penemuan Daun Gamal Sebagai bahan atau zat yang membantu proses pematangan atau pemasakan pisang
Pemasakan pisang dengan menggunakan daun gamal juga terbebas dari zat kimia yang merugikan. Dari sisi pencemaran, penggunaan daun gamal termasuk cara yang ramah lingkungan. Cara pematangan pisang menggunakan daun gamal tidak sulit. Hal itu diungkapkan dua peneliti remaja di Bali di depan dewan juri di babak final. Sekitar pisang diisi daun gamal, kemudian dibungkus dengan menggunakan kampil atau karung. Tunggu tiga hari pisang sudah matang dengan aroma alami.

KAKTUS BUKIT PENISULA

By Devita Sri Raihana
Di daerah bukit berkapur nan tandus dimana dahulu pertanian hampir mustahil dapat dilakukan karena berupa tanah bukit yang penuh dengan batu kapur, semua pohon hampir mustahil dapat tumbuh pada tanah kapur, jadi para pemilik tanah di Bukit Penisula (kabupaten Badung-Bali) menggunakan pohon kaktus sebagai pagar hidup di daerah berkapur ini, karena kaktus dapat tumbuh disela-sela batu kapur yang terkenal sangat panas pada musim kemarau. Photo ini didapat oleh papaku saat beluau survey sebuah lokasi tempat hotel atau vila di sekitar Nusa Dua Selatan (dekat kawasan Hotel Nikko Bali). Memang papaku saat itu diberi tugas untuk melakukan survey photo lokasi tanah yang disewakan pemiliknya kira-kira ada 5 hektar (50.000m2), ternyata penduduk disana jaman dahulu sudah mengenal kaktus untuk dijadikan sebagai pagar hidup. Aku tadinya mengira tanaman tersebut memang asli berasal dari daerah tersebut, ternyata setelah aku membaca beberapa artikel tentang kaktus, aku jadi kaget ternyata kaktus itu bukanlah tanaman yang berasal dari Bukit Penisula, atau mungkinkah kaktus tersebut adalah kaktus lokal yang memang sudah tumbuh semenjak jaman ribuan tahun sebelum masehi? akupun tidak tahu, bahkan menurut para akhli ada kaktus yang bisa dikomsumsi untuk manusia, tadinya aku mengira kaktus itu mengandung racun, ternyata menurut para akhli bisa dijadikan pakan ternak juga, berikut artikel tambahannya:
Kaktus adalah nama yang diberikan untuk anggota tumbuhan berbunga famili Cactaceae. Kaktus dapat tumbuh pada waktu yang lama tanpa air. Kaktus biasa ditemukan di daerah-daerah yang kering (gurun). Kata jamak untuk kaktus adalah kakti. Kaktus memiliki daun yang berubah bentuk menjadi duri sehingga dapat mengurangi penguapan air lewat daun. Oleh sebab itu, kaktus dapat tumbuh pada waktu yang lama tanpa air.
Potensi Kaktus dari Lahan Kritis dan Lahan GersangTanaman kaktus pertama kali masuk ke Indonesia karena ditawan oleh orang Belanda pada akhir abad ke-19. Awalnya, kaktus tersebut dikembangkan untuk pakan ternak di daerah Nusa Tenggara. Kaktus (Opuntia spp) merupakan tanaman asli dari daerah benua Amerika yang sangat mudah berkembang atau gampang memperbanyak diri. Praktis ditancapkan batangnya saja langsung tumbuh dan sangat mudah beradaptasi di setiap jenis mutu lahan dan sangat rendah tuntutannya terhadap air. Di lahan gurun pun tanaman kaktus mudah tumbuh. Di berbagai lahan gersang, kaktus dapat tumbuh subur. Tetapi, karena tidak mendapat perhatian dan pembudidayaan yang memadai, kaktus di Indonesia masih terbengkalai sehingga saat ini kedudukan kaktus sangat rendah di masyarakat, yaitu hanya dikenal sebagai the breed of the poor. Buah dan batang kaktus sangat kaya akan sari buah, manis rasanya, dan fresh. Sari kaktus dapat dikonsumsi langsung atau dikombinasikan dengan buah-buahan lain, baik dalam minuman es campur maupun es krim. Sari kaktus lumayan memiliki kandungan karbohidrat, kalium, phosphor kalium, serta vitamin B dan C. Buahnya dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat jam, jelly, wine, dan vinegar (cuka). Kulit kaktus sangat tebal, yaitu sekitar 30 persen dan sekitar 40 persen dari total berat, dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem (glue) dan bahkan dapat digunakan untuk bahan pengental makanan. Berbagai jenis kaktus, khususnya yang telah berbunga, banyak peminatnya sebagai ornamental plant karena bentuknya yang eksotis dengan bunga yang beraneka bentuk dan warna. Oleh karena memiliki banyak keuntungan, serta persyaratan agroekologinya rendah, tanaman kaktus memiliki potensi untuk menangkal proses kelaparan dan kurang gizi bagi jutaan masyarakat yang hidup dalam kondisi jelek. Di samping besar sekali perannya dalam peternakan serangga cochineal bagi industri zat pewarna yang mahal, perkebunan kaktus merupakan industri terpadu yang memberi peluang melakukan diverifikasi produk, misalnya untuk menghasilkan pakan ternak serta produk olahan dari buah kaktus. Oleh karena itu, program pengembangan kaktus dapat dijadikan salah satu andalan program penanggulangan kemiskinan di lahan kering dan gersang.
Teknik pengolahan kaktus:
Meskipun pohon kaktus biasanya tumbuh liar, namun perkebunan kaktus telah dikembangkan di beberapa negara, terutama Cile, Meksiko, Brasil, dan Italia. Kaktus dapat menghasilkan buah yang dikenal sebagai prickly pear cactus yang umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar atau secara tradisional digunakan untuk membuat minuman sari buah kaktus. Dari bacaan literatur yang serba terbatas, secara singkat dapat diutarakan bahwa buah kaktus dapat dikeringkan, dibuat jelly dan jam, serta dapat dikalengkan atau dibotolkan. Buah kaktus mengandung gula cukup tinggi. Sebagian besar jenis gulanya adalah glukosa dan fruktosa. Karena itu, buah kaktus rasanya sangat manis. Buah kaktus juga agak aneh karena derajat keasamannya rendah, yaitu dengan pH 6,37. Hal itu berarti buah kaktus termasuk golongan low acid food yang perlu mendapat perlakuan khusus sebab relatif mudah busuk dan dapat berfungsi sebagai substrat yang ideal bagi pertumbuhan bakteri patogen penghasil racun. Karena alasan tersebut, pengolahan buah kaktus perlu diproses dengan suhu tinggi, yaitu sekitar suhu retort, 121ºC atau 116ºC. Sebagai alternatif lain, pH buah kaktus dapat diturunkan, yaitu dengan penambahan asam seperti lemon. Sari kaktus memiliki sifat viskositas yang sangat tinggi dan telah banyak usaha dilakukan untuk mereduksi viskositas yang tinggi tersebut karena hal itu dapat sedikit mengganggu mouth feel. Di Meksiko banyak makanan tradisional yang menggunakan bahan mentah tanaman kaktus, di antaranya napatilas, yaitu batang kaktus muda dan dimasak bersama-sama daging. Pada umumnya jenis kaktus yang tak berduri lebih disukai. Produk lainnya bernama melcocha, dibuat dengan cara menggodok buah kaktus yang telah dikuliti sampai memiliki konsistensi seperti toffee. Melalui proses fermentasi dapat dihasilkan sejenis wine yang keras disebut colonche. Di Sicily, Italia, bunganya yang berwarna merah ungu secara komersial dapat digunakan sebagai zat pewarna merah alami. Di Afrika Selatan, bunga kaktus dibuat jam dan sirup untuk dituangkan di atas es krim sebagai dekorasi yang dapat dimakan. Buah kaktus memiliki warna ungu (purple) sangat intens yang menjadikan buah sangat menarik perhatian. Warna yang dimiliki buah kaktus disebabkan oleh pigmen alami yang disebut betalains, sama seperti yang terdapat dalam umbi beet. Produk lain yang banyak diterima masyarakat setempat adalah produk kristal dari batang kaktus yang dapat digunakan untuk campuran kue-kue. Kini juga sedang dikembangkan buah kaktus yang dapat diiris dengan pisau dan dimakan bersama keju sebagai desert. Di samping itu batang kaktus dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Hal tersebut penting artinya bagi pengembangan peternakan di daerah marjinal karena besarnya efisiensi penggunaan air. Karena alasan tersebut, kaktus ternyata memiliki potensi dan perlu dikembangkan di daerah semi- acid ecosystem.
100 marga kaktus
Di seluruh dunia diperkirakan terdapat lebih dari 100 marga kaktus dan sekitar 2.000 jenis yang sudah dikenal. Semua itu dapat dikelompokkan ke dalam 3 anak suku, yaitu Pereskioidea, Opuntiodeae, dan Cereoidea. Kaktus termasuk suku Cactaceae atau kaktus kaktusan. Kaktus merupakan salah satu suku tambahan berbunga. Kebanyakan kaktus tumbuh di daerah kering sampai gurun. Namun, ada juga beberapa jenis kaktus yang tumbuh di hutan hujan tropis Afrika dan Sri Lanka. Tumbuhan kaktus memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: Tidak mempunyai daun, kecuali sebagai tempat anak suku Pereskioidea. Batangnya yang berhijau daun sebagai tempat cadangan air. Permukaan batangnya tertutup dengan lapisan lilin untuk mencegah penguapan air. Batang dan cabangnya berduri, kadang-kadang dilengkapi bulu-bulu halus. Cabang, bunga, dan durinya muncul dari lubang-lubang kecil, yang terdapat di permukaan tubuhnya yang disebut areola. Akarnya panjang menyebar agar dapat menyerap lebih banyak air. Di Indonesia saat ini budidaya kaktus masih terfokus untuk tanaman hias, belum pernah dikembangkan menjadi suatu usaha industri yang menguntungkan seperti industri pigmen dan obat-obatan. Sebagai tanaman hias, kaktus memiliki penampilan yang indah, sangat menarik, meskipun acapkali berkesan aneh. Daya tarik tanaman kaktus antara lain karena bentuk perawakannya yang sangat bervariasi. Misalnya kaktus Echinocactus grusonii yang dapat berukuran sebesar drum atau Astrophylum asterias yang mirip mahkota yang berbentuk bulat dan berjuring delapan yang tengahnya berderet titik-titik putih, indah sekali. Durinya dapat tersusun rapi dan indah. Kaktus Ferocactus, latispinus memiliki duri yang berwarna coklat tua dan kaku. Bunganya dapat bervariasi, warna-warni, dan ada jenis yang berbunganya jarang muncul, artinya ada yang muncul setiap 10 tahun sekali, misalnya kaktus E grussoni. Ada kaktus yang bunga pertamanya baru muncul pada umur 40 tahun, Espostoa canata bulunya halus menyelimuti batang.

Artikel Blog